facebook-viewcontent

Bullwhip Effect : Pengertian, Penyebab, Contoh & Cara Mengatasi

komerce.id – Bullwhip effect merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada bisnis. Penyebab bullwhip effect adalah ketika manajemen persediaan tidak bisa memenuhi angka permintaan. Fenomena angka permintaan yang tidak stabil akan membuat kondisi ekonomi bisnis memburuk.

Kondisi tersebut sering terjadi pada pergerakan supply chain yang akan merugikan para pelaku bisnis. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan suatu bisnis mengalami bullwhip effect, salah satunya adalah adanya fluktuasi yang terjadi pada harga barang.

Untuk mencegah terjadinya bullwhip effect, kamu harus memperhatikan hal-hal penting yang dapat mempengaruhi permintaan. Pada artikel ini, tim Komerce akan memberikan informasi tentang pengertian, penyebab, contoh, dan bagaimana cara mengatasi bullwhip effect.

Baca juga: Pengertian Stock Opname

Apa itu Bullwhip Effect?

Apa itu Bullwhip Effect?
Apa itu Bullwhip Effect?, sumber gambar: a2globalelectronics.com

Bullwhip effect merupakan suatu fenomena yang terjadi karena adanya perubahan pada angka permintaan. Perubahan ini umumnya terjadi dalam rantai pasokan yang di dalamnya terdapat aktivitas antara retailer, distributor, produsen, dan supplier bahan baku.

Kondisi tersebut akan menyebabkan jumlah pesanan menjadi lebih besar atau bahkan lebih kecil daripada angka penjualan. Contohnya adalah selama COVID-19 yang menyebabkan banyak transformasi digital yang mempengaruhi rantai pasokan.

Banyak bisnis-bisnis besar yang mengalami bullwhip effect karena pola pembelian konsumen yang tidak efisien. Akhirnya banyak produk yang menjadi dead stock, backorder, atau dijual kembali dengan diskon untuk menghindari kerugian.

Contoh Bullwhip Effect

Contoh Bullwhip Effect
Contoh Bullwhip Effect, sumber gambar: profitpt.com

Ada banyak penyebab bullwhip effect yang bisa mempengaruhi bisnismu. Saat mengalami bullwhip effect maka akan banyak kerugian yang ditanggung oleh perusahaan, untuk memahami fenomena ini coba simak contoh kasus berikut ini.

Terdapat sebuah coffee shop yang biasanya menjual 50 gelas kopi setiap harinya. Tetapi di musim hujan yang dingin, penjualan kopi meningkat. Rata-rata kopi yang berhasil terjual di coffee shop tersebut naik menjadi 70 gelas per hari.

Untuk memenuhi angka permintaan yang meningkat, owner harus menaikkan angka persediaan kopi menjadi 80 gelas per hari. Meskipun owner hanya memperkirakan permintaan berada di angka 80, namun ketika sampai ke distributor, angka ini akan dinaikkan menjadi 90 agar tidak kehabisan stok.

Tidak hanya dari pihak owner dan distributor saja, namun pihak pabrik juga harus meningkatkan angka permintaan menjadi 100 gelas per hari. Akhirnya banyaknya permintaan akan kopi ini membuat para pengecer harus menemukan solusi baru untuk meningkatkan penjualan.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah dengan menurunkan harga atau memaksimalkan promosi agar banyak pembeli yang tertarik. Jika dibiarkan maka akan terjadi penumpukan barang atau dead stock yang membuat bisnis rugi.

Baca juga: Fungsi Kartu Stok Barang

Penyebab Bullwhip Effect

Penyebab Bullwhip Effect
Penyebab Bullwhip Effect, sumber gambar: netdna-ssl.com

Ada banyak hal yang menyebabkan bullwhip effect, jadi kamu perlu mengetahui penyebab bullwhip effect untuk menghindari kerugian akibat efek ini. Berikut adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan bullwhip effect yang bisa kamu pelajari.

1. Masalah pada Lead Time

Masalah pada lead time merupakan penyebab bullwhip effect yang paling sering terjadi. Perhitungan pada lead time yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerugian besar pada bisnis. Jika lead time tidak dikelola dengan baik maka supply chain tidak bisa memenuhi permintaan pelanggan.

Kondisi ini akhirnya akan menyebabkan penumpukan jumlah barang persediaan. Tumpukan barang ini bisa rusak atau kadaluarsa jika tidak didistribusikan ulang. Bisnis akan mengalami bullwhip effect dan mengalami kerugian yang besar.

2. Terlalu Banyak Menawarkan Diskon dan Promosi

Meskipun dapat mendatangkan keuntungan, namun terlalu banyak menawarkan diskon juga bisa menyebabkan bullwhip effect. Strategi penjualan dengan memberikan diskon dapat mengganggu tren permintaan.

Selain itu strategi penjualan tersebut juga akan menyebabkan masalah pada perkiraan angka produksi. Jika barang yang diproduksi kurang maka permintaan tidak akan terpenuhi. Sebaliknya, jika angka produksi terlalu banyak akan menyebabkan dead stock.

3. Demand Forecasting yang Keliru

Penyebab utama bullwhip effect adalah perkiraan angka permintaan yang tidak tepat. Demand forecast merupakan perkiraan angka permintaan yang dibuat berdasarkan pada analisis KPI Inventaris dan penjualan e-commerce.

Ketika angka permintaan yang diperkirakan salah maka produsen tidak bisa memenuhi permintaan. Akhirnya akan terjadi kekurangan stok penjualan atau penumpukan stok barang. Hal lain yang dapat menyebabkan demand forecasting adalah banyaknya stok barang yang tertahan di gudang produksi.

Baca juga: 19 Aplikasi Stok Barang Gratis di Android dan PC

Cara Mengatasi Bullwhip Effect

Cara Mengatasi Bullwhip Effect
Cara Mengatasi Bullwhip Effect, sumber gambar: minderest.com

Meskipun mengalami bullwhip effect bukan berarti bisnismu harus terhenti. Ada banyak cara yang bisa dicoba untuk mengatasinya. Di bawah ini kami akan membagikan cara-cara yang bisa kamu lakukan ketika bisnis mengalami bullwhip effect.

1. Sederhanakan Pasokan

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya bullwhip effect adalah dengan melakukan penyederhanaan pada jumlah pasokan barang. Saat rantai pasokan terlalu padat, maka kemungkinan suatu bisnis mengalami bullwhip effect akan semakin besar.

Untuk mengatasinya pastikan jumlah pasokan barang tidak terlalu banyak dan terlalu sedikit. Jika sudah terjadi penumpukan pasokan, kamu bisa menyederhanakannya agar jumlah produk yang disimpan tidak terlalu banyak.

2. Batasi Promosi dan Penjualan Produk

Membatasi promosi dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengatasi bullwhip effect. Promosi yang terlalu banyak dapat membuat angka permintaan menjadi naik turun dan tidak stabil. Kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah baru dalam bisnis.

Usahakan untuk lebih fokus pada upaya up selling dan cross selling untuk menstabilkan angka permintaan rata-rata. Dengan cara ini kamu akan mengetahui jumlah produksi yang tepat untuk memenuhi permintaan pelanggan.

3. Optimalkan Minimum Order Quantity (MOQ)

Cara lain yang bisa kamu coba saat bisnismu mengalami bullwhip effect adalah dengan menetapkan jumlah pesanan minimum. Dengan cara ini kamu bisa menentukan perkiraan angka permintaan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Namun, MOQ tidak cocok diaplikasikan pada penjualan barang yang terkena diskon massal. Barang yang dijual dengan diskon massal akan menyebabkan angka pemesanan produk sulit ditangani. Perlu diingat bahwa salah satu penyebab bullwhip effect adalah terlalu banyak promosi dan diskon.

4. Gunakan Software Warehouse Management System

Dengan software warehouse management system kamu bisa melacak tingkat inventari, aliran produk, dan pesanan. Pemilik bisnis yang menggunakan software ini akan mendapatkan gambaran rinci tentang kemampuan bisnisnya dalam memenuhi permintaan pelanggan.

Selain itu, kamu juga bisa menghemat biaya tambahan untuk kelebihan stok persediaan. Jika menggunakan software ini, kamu akan tahu perkiraan angka permintaan yang bisa disesuaikan dengan proses produksi barang.

Kamu bisa menggunakan Komship, platform warehouse management yang akan membantumu dalam urusan pergudangan mulai dari penyimpanan hingga pengiriman. Kenapa kamu harus memilih Kompack sebagai partner dalam urusan pergudangan?

Tim kami terdiri dari orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya dan memiliki SOP untuk menjamin kemanan produk yang disimpan. Tak hanya itu, untuk semakin meningkatkan layanan, gudang Kompack juga sudah support mesin pendingin yang dapat digunakan untuk penyimpanan produk-produk tertentu yang membutuhkan suhu rendah.

Kamu juga akan mendapatkan laporan berkala yang uptodate sehingga meminimalisir resiko kamu kehabisan stock dan ketidakstabilan distribusi barang.


Bullwhip effect merupakan suatu fenomena dalam dunia bisnis yang umum terjadi. Biasanya fenomena ini terjadi dalam kegiatan supply chain. Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab bullwhip effect yang dapat menyebabkan kerugian dalam bisnis.

Akibatnya akan muncul masalah baru yang dapat mempengaruhi ketidakstabilan angka permintaan. Jumlah permintaan yang naik turun dan membuat pelaku bisnis bingung untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Suatu bisnis yang terkena bullwhip effect bisa mengalami kerugian yang cukup besar. Ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya fenomena ini. Pastikan untuk mempelajari tentang bullwhip effect agar bisnismu dapat berjalan dan meraup keuntungan yang besar.

Bayu Kurniawan

SEO Specialist di Komerce, berpengalaman lebih dari 4 tahun dalam SEO dan sangat tertarik pada digital marketing.

Tinggalkan komentar