facebook-viewcontent

Kampung Marketer Lakukan “Pendanaan Serie-A” ke Saung Makaryo

Setiap daerah memiliki problem-problem social yang unik, inilah saatnya Anda berperan untuk menyelesaikan problem-problem social di sekitar daerah kita masing-masing. Social enterprise dengan primary goal berupa penyelesaian social impact yang pertama kami buat adalah Kampung Marketer (KM), tepatnya pada tanggal 27 Agustus 2017. KM, social enterprise yang fokus pada 3 pilar social impact berupa:

  1. Pengentasan pengangguran segment pemuda
  2. Penekanan laju urbanisasi segment pemuda di pedesaan
  3. Menciptakan pengusaha muda mandiri dari desa

tercatat di bulan Mei 2019 sudah berhasil menorehkan pencapaian dengan berhasil memberdayakan 600 lebih pemuda desa dan dengan pendapatan yang dibagikan ke warga telah mencapai akumulasi 1 Milyar per bulanya.

KM telah membentuk tim manajemen yang sekarang berjumlah 28 orang dengan 3 bidang besar meliputi bidang Pendidikan, Pemberdayaan dan Tata Usaha. Waktu demi waktu kami terus memperbaiki sistem dan kapasitas SDM agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan makin bermanfaat kepada warga desa yang kami berdayakan dan partner pebisnis kota yang berkolaborasi dengan kami.

KM telah mencapai tahap market fit, rencana kedepan tinggal scale untuk berfokus pada goal lebih banyak warga desa yang diberdayakan (kuantitas), penguatan sistem berbasis aplikasi, peningkatan kapasitas SDM, dan yang tak kalah penting adalah menjadikan setiap individu berprinsip VUCA agar senantiasa mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang dinamis.

Di akhir tahun 2018, tepatnya pada 21 Desember 2018, kami membuat social enterprise yang kedua dengan nama Saung Makaryo (SM). Masih dengan positioning meng-kolaborasikan antara desa dengan teknologi, dalam pertumbuhan SM faktor teknologi sangat berperan penting. SM memiliki 2 pilar penyelesaian social impact berupa:

  1. Peningkatan kesejahteraan orang tua desa
  2. Menekan laju urbanisasi orang tua desa

Memaksakan orang tua untuk terlibat pada teknologi tentu bukan hal yang tepat. Oleh karena itu, pada kasus SM, orang tua hanyalah object yang ingin kami bantu secara goal. Adapun keterlibatan teknologi masih dibantu oleh tim manajemen. Orang tua kami berdayakan dalam hal yang mereka masih bisa lakukan diantaranya produksi, pengelolaan, perawatan lahan dan tamanan, dll.

Pada Mei 2019 tercatat beberapa unit usaha yang sudah dimulai diantaranya adalah produksi produk (lokal desa) untuk di distribusikan ke kota (seluruh Indonesia) melalui media online. Satu kategori produk sudah terjual puluhan ribu pcs dalam kurun waktu 4 bulan berdiri, menyusul 1 kategori produk desa yang sedang dalam tahap uji coba test pasar.

SM juga sudah mulai menanam ratusan bibit tanaman tertentu untuk menjadi salah satu komposisi sebuah produk yang akan didistribusikan ke kota. Hal itu merupakan salah satu kegiatan usaha dari beberapa unit usaha yang akan dieksekusi di tahun 2019 diantaranya produksi produk lokal desa, pembibitan tanaman, koperasi perternakan, keahlian skill tertentu di bidang usaha jasa, hospitality untuk wisata edukasi.

Judul di atas hanya guyonan, biar mentereng seperti judul-judul pemberitaan startup lokal yang lain yang dibuat di kota-kota. Adapun SM bergerak murni dari bootstrapping laba di tahan seadanya dari KM, tidak bernilai setara pendanaan awal serie-A sebuah startup diluar sana. Pendanaan awal dari KM inilah yang membuat SM tumbuh bergerak untuk melahirkan unit-unit usaha untuk orang tua.

Harapan kami di penghujung tahun 2019, goal pemberdayaan ratusan orang tua yang terbantu di desa kami kian nyata. Tercatat di Mei 2019 ini, tim manajemen SM terdiri dari 5 orang, dengan SDM orang tua desa yang sudah diberdayakan lebih dari 20 orang.

Nanda

Nanda adalah content specialist di Komerce. Nanda ingin terus berbagi pengalamannya melalui artikel-artikelnya di blog Komerce. Memastikan Anda mendapatkan pengalaman-pengalaman baru tentang dunia customer service dan e-commerce.